Minggu, 08 Mei 2011

SEJARAH KEKAISARAN SINGHASARI


Kerajaan Singhasari terletak di sebelah timur Gunung Kawi di hulu sungai Brantas Jawa Timur.Pada abad ke 13 Singhasari hanyalah sebuah desa kecil. Singhasari muncul dipermukaan sejarah awal abad ke-13 dilembah sungai Brantas sekitar kota Malang. Berdasarkan Prasasti Kudadu nama resmi Kerajaan Singhasari yang sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.`

Sumber-sumber Sejarah

Keberadaan kerajaan Singosari dibuktikan melalui candi-candi yang banyak ditemukan di Jawa Timur yaitu daerah Singosari sampai Malang, juga melalui kitab sastra peninggalan zaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah di Singosari serta kitab Pararaton yang juga menceritakan riwayat Ken Arok yang penuh keajaiban.
Kitab Pararaton isinya sebagian besar adalah mitos atau dongeng tetapi dari kitab Pararatonlah asal usul Ken Arok menjadi raja dapat diketahui. Diceritakan bahwa Batara Brahma sedang bermesraan dengan Ken Ndok di Ladang lelateng dan berpesan agar Ken Ndok jangan berkumpul lagi dengan suaminya. Larangan tersebut menyebabkan pisahnya hubungan Ken Ndok dengan suminya yang bernama Gajah Para. Ken Ndok kemudian pulang ke desa Pangkur dan Gajah Para pulang ke desa Campara. Konon 5 hari kemudian Gajah Para meninggal karena melanggar larangan Batara Brahma dan karena panasnya anak yang masih dalam kandungan Ken Ndok.


Pada saatnya Ken Ndok kemudian melahirkan bayi laki laki yang karena malunya bayi tersebut segera dibuang ke Kuburan. Pada malam harinya pencuri yang bernama lembong pergi kekuburan dan sangat terkejut melihat cahaya yang berpendaran yang berasal dari bayi yang sedang menangis. Karena kasihan Bayi tersebut kemudian dipungut oleh lembong dan diberi nama Ken Arok. Ken Arok tumbuh menjadi dewasa dan Kegemarannya adalah suka berjudi sehingga barang barang milik ayah angkatnya habis untuk dipakai berjudi. Hal tersebut menimbulkan kekesalan dalam diri Lembong sehingga mengusirnya dari rumah.


Ken Arok kemudian pergi dari rumah Lembong dan ditengah jalan bertemu dengan Bango Samparan , penjudi dari desa Karuman dan diajak ke tempat perjudian. Dalam perjudian tersebut Bango samparan bernasib baik memenangkan perjudian dan Ken arok dianggap membawa keberuntungan bagi dirinya. Karena Istri tua Bango Samparan tidak mempunyai anak Ken Arok kemudian diangkat sebagai anak. Dirumah Bango Samparan Ken arok tidak bias bergaul dengan anak anak Tirtaja istri muda bango samaparan. Ken arok kemudian bergaul dengan Tita anak kepala desa Siganggeng.


Kenakalan Ken arok semakin bertambah yaitu selain berjudi dia juga berani merampok sehingga menimbulkan keresahan dikalangan penduduk Tumapel dan menjadi buruan Akuwu Tumapel. Namun demikian Ken arok selalu berhasil lolos dari bahaya berkat perlindungan dari Sang Hyang Brahma. Sementara itu orang orang Daha sudah mengetahui tempat persembunyian Ken arok di Turyantapada kemudian melakukan pengejaran. Ken Arok berhasil melarikan diri ke desa Tugaran kemudian ke gunung pustaka, dilanjutkan ke Desa Limbahan, dari desa Limbahan ke desa Rabut sampai akhirnya sampai di desa Panitikan.


Atas saran seorang nenek ken Arok kemudian bersembunyi di gunung Lejar. Dalam persembunyian tersebut Ken Arok mendengar keputusan para dewa yang mengatakan bahwa dirinyalah yang ditakdirkan akan menguasai Pulau Jawa.


Arca Peninggalan Kerajaan Singhasari

Pada suatu hari Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Ciri-cirinya yaitu rajah telapak kanannya yaitu Cakra dan tangan kirinya bertanda tutup kerang. Dari ciri ciri yang ditemukan pada diri Ken Arok , Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya.

Pesan ini didengar oleh Brahmana Lohgawe pada saat akan melaksanakan pemujaan kepada dewa Wisnu di suatu candi. Dengan jelas didengarkan bahwa Dewa Wisnu tidak ada lagi di pemujaan tetapi telah menitis pada orang yang bernama Ken Arok dari Pulau Jawa. Ia diperintahkan mencarinya di perjudian. Ken Arok kemudian dibawa oleh Brahmana Lohgawe menemui akuwu Tumapel.
Tumapel merupakan salah satu daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Akuwu (camat) Tumapel saat itu bernama Tunggul Ametung. Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok dapat diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung


Tunggul Ametung memiliki seorang istri cantik bernama Ken Dedes. Ken dedes adalah anak pendeta Budha dari Desa Panawijen bernama Empu Purwa. Konon ketika Tunggul Ametung datang ke desa Panawijen untuk melamar Ken dedes, Empu Purwa sedang bertapa. Karena tidak kuat menahan nafsunya Ken dedes kemudian dilarikan ke Tumapel dijadikan istri. Ketika empu Purwa pulang dari pertapaan dan mendapatkan putrinya sudah tidak ada lagi Empu Purwa kemudian menjatuhkan kutukan “ semoga yang melarikan anak saya tidak akan selamat hidupnya, semoga mati kena tikam keris “ Penduduk desa Panawijen juga tidak luput dari kutukan empu Purwa karena enggan memberitahukan peristiwa pelarian anaknya oleh Tunggul Ametung. Desa Panawijen dikutuk supaya sumber air dan sumur di desa tersebut kering.

Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Singhasari

Ketika Ken Arok tiba di Tumapel, Kendedes sedang mengandung, bersama suaminya Ken dedes pesiar ke Taman Baboji. Waktu turun dari kereta kain Kendedes tersingkap dari betis sampai pahanya. Dari kemaluan Ken Dedes keluar cahaya. Peristiwa tersebut diceritakan kepada Brahmana Lohgawe. Jawab Lohgawe bahwa wanita yang rahasianya menyala adalah wanita waneswari dimana keturunannya akan menjadi raja besar. Dalam Pararaton dijelaskan sebagai berikut :

Kendedes tumurun saking padati,Katuwon pagewening widhi kengis wentisira Kengkap tekeng rahasyanira Neberkaton murub denira ken arok Langira danghyang Lohgawe Yen hana stri mangkana iku stri nariswari arane Yadnyaningwong papa angalapa ring wong wadon iku Dadi ratu anakrawati …. (Pararaton)


Ketika Kendedes turun dari keretanya Ada angin semilir hingga membuat betisnya terlihat Terbuka hingga ke “rahasianya” Dan terlihat menyala oleh Ken Arok Dijawab oleh pendeta Lohgawe Jika ada wanita dengan nyala seperti itu disebut nariswari Jika ada orang bisa mengawininya, walaupun dia berdosa, Kelak dia akan menjadi raja besar Mendengar hal tersebut Ken Arok lalu terdiam, timbul niat Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung namun Brahmana Lohgawe tidak setuju. Ken Arok kemudiian minta ijin untuk mengunjungi ayah angkatnya yaitu Bango Samparan dan menceritakan peristiwa yang dialaminya dan rencana yang akan dilaksanakan.


Bango Samparan kemudian memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang. Ia seorang ahli dalam membuat pusaka ampuh. Ken arok kemudian memesan keris dan memberi batas waktu 5 bulan supaya keris tersebut selesai dibuat, Empu Gandring minta waktu selama setahun agar pembuatan keris tersebut sempurna. Namun Ken arok tetap bersikukuh lalu pergi.


Lima bulan kemudian ken Arok datang ke desa Lulumbang menagih keris pesanannya, namun keris tersebut masih di gurinda. Karena marahnya keris tersebut lalu direbut dan ditikamkan ke Empu Gandring. Sementara itu Empu ganding yang sedang sekarat kemudian mengeluarkan kutukan “ hai Arok kamu dan tujuh keturunanmu akan mati oleh keris itu juga”


Kembali ke Tumapel, Ken Arok menjalankan rencana liciknya. Mula-mula ia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Hijo, rekan kerjanya sesama pengawal. Ketika melihat keris Ken Arok yang berukirkan kayu Cangkring, Kebo Hijo minta dipinjamkan keris tersebut. Kebo Hijo lalu memamerkan keris itu sebagai miliknya ke semua orang yang ia temui.


Ken Arok menduga bahwa saat yang dinanti nantikan telah tiba. Pada malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusakanya dari tangan Kebo Hijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh majikannya itu. Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun ia luluh pada rayuan Ken Arok. Lagi pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung didasari rasa keterpaksaan. Pagi harinya, Kebo Hijo dihukum mati karena kerisnya ditemukan menancap di mayat Tunggul Ametung. Ken Arok lalu menjadi akuwu baru di Tumapel dan menikahi Ken Dedes. Saat itu Ken Dedes sedang mengandung anak Tunggul Ametung.


Sepeninggal Tunggul Ametung, Ken Arok menjadi Akuwu di Tumapel dan mengawini Ken Dedes, diantara orang Tumapel tidak seorangpun yang berani menentangnya. Sejak Ken Arok menjadi akuwu di Tumapel semua penduduk disebelah timur Gunung Kawi segan kepadanya. Kekuasaan dan kewibawaannya semakin hari semakin besar. Dalam kekedudukannya sebagai akuwu di Tumapel Ken Arok tidak melupakan orang orang yang telah berbuat baik kepadanya, Mereka diberikan tanda jasa diantaranya Bango Samparan dari Karuman, Empu Palot dari Turiyantapada, Anak dari Empu Gandring dari Lulumbang, Anak pendeta Lohgawe semuanya diundang untuk menetap di Tumapel dan menetap disekeliling Ken Arok. Anak Kebo Hijo yang bernama Kebo Randi dijadikan pekatik

Keturunan Tunggul Ametung

Pararaton kemudian mengisahkan sepeninggal Tunggul Ametung, Ken Arok menikahi Ken Dedes serta mengangkat dirinya sebagai akuwu Tumapel. Waktu itu, Ken Dedes tengah mengandung bayi hasil perkawinannya dengan Tunggul Ametung, yang setelah lahir diberi nama Anusapati. Peristiwa tersebut terjadi tahun saka 1104 atau tahun 1182 Masehi.


Apabila kisah dalam Pararaton ini dicermati, maka akan diperoleh gambaran bahwa Ken Dedes merupakan saksi mata pembunuhan Tunggul Ametung. Anehnya, ia justru bersedia dinikahi oleh pembunuh suaminya. Hal itu membuktikan kalau Ken Dedes dan Ken Arok sebenarnya saling mencintai. Perlu diingat pula kalau Ken Dedes menjadi istri Tunggul Ametung setelah dirinya diculik oleh akuwu Tumapel tersebut. Jadi pernikahan pertama Ken Dedes mengandung unsur keterpaksaan.


Pararaton melanjutkan bahwa Anusapati kemudian berhasil membunuh Ken Arok melalui tangan pembantunya, dan kemudian ia menjadi raja Singhasari yang kedua. Ia kemudian menurunkan raja-raja selanjutnya, seperti Wisnuwardhana dan Kertanagara. Raden Wijaya pendiri Majapahit memang bukan keturunan Tunggul Ametung. Tetapi istrinya, yaitu Gayatri adalah putri Kertanagara. Dari rahim Gayatri inilah lahir Tribhuwana Tunggadewi yang kemudian menjadi raja wanita pertama di Majapahit, yang juga menurunkan raja-raja selanjutnya, seperti Hayam Wuruk dan Wikramawardhana. Jika apa yang ditulis dalam Pararaton itu benar, maka dapat dikatakan kalau Tunggul Ametung adalah leluhur raja-raja Singhasari dan Majapahit.

Runtuhnya Kerajaan Kadiri dan Berdirinya Kerajaan Tumapel

Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kadiri dengan para pendeta Siwa-Budha. Raja meminta agar pendeta Siwa-Budha menyembah dirinya. Keinginan Prabu Kertajaya ditolak oleh para pendeta karena belum pernah ada seorang pendeta menyembah raja. Untuk memperlihatkan kesaktiannya Prabu kertajaya lalu menancapkan tombaknya ditanah dan duduk diatas ujungnya. Namun para pendeta tetap pada pendiriaannya dan pindah pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken Arok. Kertajaya mengaku tidak ada yang bisa mengalahkan dirinya, kecuali Bhatara Siwa. Mendengar sesumbar itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Siwa dan siap memerangi Kertajaya.


Saya dengar di Daha sebentar lagi diselenggarakan pesta?. Seorang jangga muda bertanya pada resi. Ya, sang Prabu Dandanggendis akan menggelar hajatan. Beliau mengundang seluruh pandeta, resi dan pujangga dari pelosok negri jajahannya. Daha (Ndoho, kini sebuah wilayah kecil saja di kabupaten Kediri). Di atas lembaran lontar tertuliskan, sang Prabu mengharap kehadirian mereka pada upacara tersebut. Wakil-wakil kalangan bawah pun didatangkan. Dalam benak para resi, pandita dan jangga membawa misteri berbeda-beda. Ada apa gerangan sang Prabu tiba-tiba menyebarkan undangan bertintakan emas (?).

Ada menyangka ini jelas perintah maha penting dan dirahasiakan. Pun pula ada mengira sang Prabu sedang sakit. Kepura-puraan mengundang agar tak diketahui halayak masyarakat, dan diharap para pandita sudi menyalurkan dayadinaya demi kepulihannya. Undangan telah disebar, tanggal waktu sudah ditetapkan. Tak pelak takdir tergariskan. Para pandeta, resi, pujangga datang menghadap Raja. Ada membawa pengawal bertubuh tegap nan kekar, pula bersama para abdi kepercayaan. Dan tak ketinggalan juru tulis dihadirkan demi kekalkan berita yang kan terjadi. Ada juga kedatangannya menyamar sebagai pengemis atau petani. Sehingga banyak rakyat jelata tiada tahu, yang tengah berjalan menuju ibukota Daha ialah pandita.


Para undangan sudah berkumpul di bawah kaki kuasa Raja. Dengan sigap Prabu Dandanggendis memberi sambutan singkat nan padat. Intinya merasa jaya nan dikjaya. Segala kelebihan ilmunya dipamerkan kepada hadirin. Mereka melongo menyaksikan linuwihnya. Lantas beliau berkata: aku telah memerintah kerajaan ini cukup lama tak tergoyahkan. Adakah di antaramu tak tunduk menyembah kepadaku. Rajamu yang baik serta bijak mulia ini. Wahai para pandita, resi, pujangga dan para hadirin kepercayaanku. Dalam ajaran kita, apakah sebab kalian tak mau menyembah kepadaku. Padahal aku tiada bedanya dengan Bathara Guru. Anggapan berlebih kepada diri sendiri, sering kali mencipta bumerang.


Para hadirin semuanya gusar, mau menentang takut kuku-kuku kuasa Raja. Jika menyetujui berarti membohongi bathin sendiri. Lantas salah seorang pandita berkata: “duh baginda Raja, selamanya belum pernah ada pandita menyembah raja.” “dulu memang belum pernah ada, sekarang kalian harus menyembah kepadaku.” tegar ucapan sang Raja.


Para hadirin terdiam. Sang Prabu mencium gelagat hal itu sambil menantang bersuara lantang: kalau kalian ragu yang saya maksud, cobalah semua maju melawan diriku? Seakan serentak, ruang pendapa itu makin lama kian hening tak bergeming, seolah tiada makluk hidup. Seekor semut pun tak berani beranjak dari tempatnya. Prabu Dandanggendis merupakan raja disegani kala itu, bala tentaranya gagah pemberani, para prajuritnya patuh menjunjung tinggi titah Raja.


Kisah Dandanggendis ini menyerupai Firaun dan lebih, sebab dirinya secara sadar menganggap tuhan tanpa kemabukan kuasa berlebihan. Ingin mendapati kepala-kepala orang bersujud di hadapannya. Suara pendapa kedaton Daha hening suwong. Sang Raja bolak-balik mengelilingi para hadirin yang dipercayakan dapat mendaulat dirinya menjelma Bathara Guru. Langkah-langkah berwibawanya menyiutkan nyali pendengaran.
Tiada bisik-bisik kesepakatan di antara pandita, resi dan jangga. Serentak sukma mereka disentakkan kuasa dinaya tenaga sang Prabu dengan sangat kuat. Setelah ruangan berhasil dikuasa sang Prabu. Ia tersenyum lebar, tawanya menggema, meruntuhkan kembali mental-mental tak pernah diasah keberanian. Sangat puas hati Raja, lantas meminta para hadirin benar-benar bersujud dihadapan kakinya. Lantai marmer pendapa bergetaran, atas jiwa Raja tak tertandingi sebab niatannya manunggal tak tergoyahkan.


Setelah dirasa cukup, para hadirin diperkenankan pulang ke negri masing-masing. Mengabarkan sang Raja sudah menjelma tuhan alam semesta. Namun tak demikian bathin semua undangan, sepulang dari gardu istana. Langkah demi langkah hati mereka berhianat, jujur kepada kalbunya bahwa seorang pandita, resi dan jangga taklah bersujud kepada seorang Raja.


Sejak lama para pandita, resi dan pujangga Daha telah mendengar kabar. Bahwa di daerah Tumapel yang berubah nama Singosari (daerah sebelum memasuki kota Malang, sekarang menjadi kota kecil saja). Ada seorang raja yang berwibawa dan disegani, bergelar Sri Rajasa. Alam pertanian palawija serta rerumputan padi, juga perdagangan di wilayah tersebut makmur, seolah Dewata memberi restu sentausa bagi tahtanya selamanya.
Tak jauh dari perbatasan kota Daha, para undangan sang Prabu mengurungkan langkah ke negri masing-masing. Bathin mereka menyerahkan kepercayaan kepada penguasa Singorasi, sebagai pulung selanjutnya. Sebagian besar mereka menuju Singosari guna menghadap Rajasa. Yang awal kelahirannya bernama Ken Angrok (Ken Arok).


Setelah para pandita, resi dan pujangga kerajaan Daha bersepakat ke Singorasi, berangkatlah mereka. Ken Angrok sebelum menjadi raja ialah sosok begundal. Perampok tersohor, penjudi ulung, penyabung ayam kawakan, juga pemetik bunga pinggir jalan. Suatu kali ia memiliki seekor ayam jantan, si jago itu amat kesohor, banyak ayam jago lawan-lawannya lari pecirit tunggang langgang, disamping banyak pula berpulang cacat oleh ulahnya. Ayam pemberani Angrok itu sempat melegenda, sebab mati di tengah gelanggang. Ia bertarung dengan keseluruhan jiwa-raga untuk sang tuannya, sampai darah penghabisan. Tak seperti ayam-ayam jago lain yang lari ketakutan, keok sebelum temukan ujung sekarat.


Hidupnya Angrok waktu itu tak ubahnya para brandal, boros dan ugal-ugalan. Ludes uang hasil judi menjadikan ia sosok perampas, merampok para sodagar yang melewati hutan, tempat ia menanti antrian nasib naas yang ditunggunya. Di tempat itu, ia memiliki cerita menarik. Pernah ada seorang tua melewati hutan itu dan menyapa kepada Angrok: Nak, katanya melewati hutan ini membahayakan.
Bisakah anaknda membatu saya dalam perjalanan pulang? Angrok tersenyum, diantarnya orang itu sampai kediamannya. Jalan hidup manusia memang sulit ditebak, selalu berkelok memasuki ruang-ruang jiwa. Tak seorang pun memahami pribadi yang lain secara peka nan juntrung.


Insan yang berilmu pengalaman, ketika dinaikkan drajatnya menjadi penguasa. Jawabannya ialah makin serakah, atau loman kepada rakyatnya. Dan Angrok memilih jalan kedua. Seakan telah kenyang perbuatan angkara murka, sudah puas mengumbar hawa nafsunya. Atau telah insaf, sebab ulahnya dikala merebut kekuasaan secara paksa. Atas hasratnya merampas cerlang cahaya nareswari dari selangkangan Ken Dedes. Sewaktu Tunggul Ametung terkena sirep (ilmu sihir menidurkan musuh), dan tertikam keris Gandring atas Angrok. Ia kubur dalam-dalam watak beringas. Di hadapkan wajah santun kasih sayangnya kepada rakyat, serupa mukanya memandang kekasih-kasihnya, Ken Dedes dan Ken Umang.


Saat para jangga, resi dan pandita sampai ke kota Singosari. Sungkemlah rombongan tersebut memberi dukungan dengan alasan kemakmuran negara. Juga menangkal suara-suara hitam kekuasaan pusat yang ada di Daha. Lama-lama kabar itu tercium sang Prabu. Dengan lantang Prabu Dandanggendis berkoar: Tiada yang bisa melawan aku, kecuali Batara Guru turun sendiri dari suralaya (kahyangan).
Gema suara keangkuhan itu ditangkap telik sandi Singosari, dan dihaturkan kepada Sri Rajasa Sang Amurwabumi. Dengan bernaluri keyakinan, Ken Angrok meminta restu kepada para pandita, resi dan jangga yang setia mendukungnya. Untuk mengangkatnya bergelar Sang Hyang Caturbuja atawa Batara Guru. Sebagai usaha memantabkan mental lewat mitos, bahwa manusia sanggup menjelma apa saja. Demi meloloskan takdirkan melewati usaha sungguh membathin, dengan sekuat dinayanya.


Alam telah siap menunggu goncangan, bulan matahari memberi kesaksian yang kan dilewatinya penuh awan-gemawan mensejarah. Burung-burung berkabar ke negeri-negeri jauh. Gerak bathin anak manusia, dan alam tertunduk menerima takdirnya.


Dandanggendis mulai gemetar ketika mendengar para resi, pandita juga pujangganya telah merestui sang Rajasa dengan gelar Batara Guru. Hanya umpat pedas nan tajam yang keluar dari mulut sang Prabu. Hal itu tak disia-siakan Angrok. Ketika keangkuhan mental peperangan terpancing, magnit saling tarik kekuatan, atau terlempar jauh dari lawannya. Niat ibarat magnit, sanggup menarik jarum di dekatnya. Dan bisa menggetarkan lempeng besi walau mata tak melihatnya.


Angrok bersama suara alam langit menggemuruh kekuatan bumi merapatkan barisan. Para tentaranya yang digembleng langsung olehnya, sudah terlatih menghimpun pertahanan juga menyerang. Seperti disusupi arwah leluhur, para tentara itu menerjang berhamburan ke kota Daha. Ada menyusuri pinggiran sungai, menanjaki bukit dan tebing, menyusup laksana angin pada rerumputan. Pasukan Singosari dicegat bala tentara Daha di sebelah utara Ganter. Bertarung kikis prajurit kedua belah pihak habis-habisan, saling mengeluarkan kadikjayaan. Mungkin kehendak sejarah tuhan, panglima perang Daha tewas. Berhamburan anak-anak buahnya bagai bebatuan kali diterjang banjir bandang. Sebagian besar gelimpangan bak pohon pisang yang tanahnya digerus lupan air bengawan. Terhanyut mengikuti arus kekalahan sampai samudra penaklukan.


Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi di desa Ganter. Pada pertempuran tersebut Makesa Walungan dan Gubar Baleman hulubalang kerajaan kediri tewas dalam pertempuran, Pihak Kadiri kalah. Kertajaya melarikan diri, bersembunyi di dalam sebuah candi. Sejak saat itu Tumapel menjadi kerajaan baru yang merdeka. Ken Arok menjadi raja pertama dengan gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi.

Arca Arca Peninggalan Jaman Singhasari

Ken Arok akhirnya berhasil mewujudkan ambisinya dan sejarah mencatatnya sebagai pendiri dinasti baru, Rajasa. Bahkan para raja-raja Singosari dan Majapahit selanjutnya berusaha menarik garis keturunan dengannya untuk mengesahkan status ke-raja-annya. Sebagai raja pertama Singosari maka Ken Arok menandai munculnya dinasti baru yaitu dinasti Rajasa atau dinasti Girindra untuk menambah pemahaman Anda tentang keturunan dinasti Rajasa, maka simaklah silsilah berikut ini:


Raja-raja Singhasari/ Tumapel versi Pararaton adalah:
1. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222-1247)
2. Anusapati (1247-1249)
3. Tohjaya (1249-1250)
4. Wusnuwardhana (1250-1272)
5. Kertanagara (1272-1292)

Dengan memperhatikan silsilah dibawah ini , maka yang perlu Anda ketahui bahwa nama yang diberi nomor dan diberi kotak/dalam kotak itulah urutan raja-raja Singosari. Raja pertama sampai ketiga yang diberi tanda (*) mati dibunuh karena persoalan perebutan tahta dan balas dendam. Dari kelima raja Singosari tersebut, raja Kertanegaralah yang paling terkenal, karena dibawah pemerintahan Kertanegara Singosari mencapai puncak kebesarannya. Kertanegara bergelar Sri Maharajaderaja Sri Kertanegara mempunyai gagasan politik untuk memperluas wilayah kekuasaannya

Jumat, 06 Mei 2011

SIRNA HILANG KERTANING BUMI


Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa bangsa Jawa dahulu kala memiliki tradisi kalender yang biasa disebut perhitungan kalender candra sengkala. Perhitungan itu berupa kata symbol yang bernilai angka tetap. Kalender inilah yang banyak berjasa menjelaskan berbagai peristiwa sejarah nusantara. Kali ini saya ingin mengungkapkan sebuah perhitungan Candra Sengkala yang menjelaskan kejatuhan kerajaan Majapahit, yaitu sengkala yang berbunyi, Sirna Hilang Kertaning Bumi. Sirna bermakna nol atau kosong, Hilang berarti nol, Kertaning berarti empat, Bumi bermakna satu. Maka dapat kita lihat ada angka 0041. Untuk membacanya kita harus membacanya dengan terbalik: 1400.Bila kita ingin mengetahui artinya dalam tahun masehi, maka kita harus menambahnya dengan angka 78. Sehingga kita mendapatkan angka 1478. Tahun 1478 merupakan puncak dari kejatuhan imperium Majapahit. Sengkala berasal dari kata “saka kala” (tahun saka) yang diberi imbuhan - an kemudian menjadi sengkalan. Sengkalan didefinisikan sebagai angka tahun yang dilambangkan dengan kalimat, gambar, atau ornamen tertentu. Bangsa barat menyebutnya sebagai kronogram. Penyebutan angka tahun mengunakan kalimat dimaksudkannya agar para generasi penerus mudah mengingat peristiwa yang telah terjadi pada tahun yang dimaksud. Jadi, sengkalan punya dua maksud : angka tahun, dan peristiwa apa yang terjadi tahun itu. suatu cara yang sangat cerdas warisan leluhur. Karena tahun Caka/Syaka/Saka menggunakan garis edar Matahari sebagai refererensi, maka suka disebut surya sengkala. Kalau tahun Jawa atau tahun Hijriyah, maka suka disebut candrasengkala karena menggunakan garis edar Bulan sebagai referensi (candra = Bulan). Para leluhur sudah menyusun aturan sedemikian rupa untuk menjadi pedoman bagaimana membuat suryasengkala. Karena sengkalan menggunakan kalimat sebagai angka, maka kata-kata tertentu punya “watak bilangan” atau “watak kata-kata” masing masing. Berikut adalah aturannya (diterjemahkan dari bahasa Kawi atau Jawa). · Angka 1 : benda yang jumlahnya hanya satu, benda yang berbentuk bulat, manusia. · Angka 2 : benda yang jumlahnya ada dua, misalnya tangan, mata, telinga. · Angka 3 : api atau benda berapi. · Angka 4 : air dan kata-kata yang artinya “membuat”. · Angka 5 : angin, raksasa, panah. · Angka 6 : rasa, serangga, kata-kata yang artinya “bergerak”. · Angka 7 : pendeta, gunung, kuda). · Angka 8 : gajah, binatang melata, brahmana. · Angka 9 : dewa, benda yang berlubang. · Angka 0 : hilang, tinggi, langit, kata-kata yang artinya “tidak ada”. Aturan lainnya adalah bahwa sengkalan punya sandi, yaitu kata terakhir di kalimat sengkalan menjadi angka urutan pertama, sedangkan kata pertama di kalimat sengkalan menjadi angka urutan terakhir pada tahun sengkalan. Mari kita analisis “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. Bila dilihat watak kata-kata dan watak bilangannya, maka “sirna” = hilang = angka 0, “ilang = hilang” angka 0, “kertaning/kerta ning” = dibuat = pekerjaan membuat = angka 4, “bumi/bhumi” = bumi = angka 1. Analisis sengkalan ini harus didampingi buku buku kamus Jawa Kuno (Kawi) susunan Poerwadarminta, Wojowasito, atau Purwadi. Suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” = 0041, ingat aturan sandi sengkalan, maka tahun yang dimaksud dengan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” adalah 1400 Caka atau 1478 M. Sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” dimaksudkan pengarang Babad tanah Jawi untuk menggambarkan runtuhnya/hilangnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Caka atau 1478 M. Ada yang menarik di sini : “Kertaning Bumi” Kerta/Karta = dibuat/dijadikan. Misalnya : Jayakarta = dibuat jaya/berhasil, Yogyakarta = dibuat baik (seyogyanya = sebaiknya). Maka, “kertaning Bumi” terbuka untuk ditafsirkan “dibuat (oleh) Bumi” atau “dibuat (di) Bumi”. Kata “ning” dalam bahasa Kawi bisa banyak punya arti sebagai kata depan atau kata pembuat kata kerja. Apakah “Sirna Ilang Kertaning Bumi” bisa ditafsirkan “Hilang Musnah Dibuat Bumi” ? kita bisa menduganya : bencana dari Bumi. Kaitkan ke Babad Pararaton, bencana itu adalah Pagunung Anyar alias erupsi gununglumpur. Kronik sejarah macam Babad Tanah Jawi, Babad Pararaton, Kunci sandi Sengkalan, dan geologi Delta Brantas kini dan dulu cukup kuat menunjuk bahwa bencana alam adalah faktor penting yang harus ditelusuri dalam Sandhyakala ning Majapahit - Senja Kala di Majapahit. Majapahit runtuh disebabkan banyak faktor salah satunya adalah situasi politik di tanah Jawa pada saat itu dan sirnanya semangat maritime di kalangan para pembesar (para adipati) yang berada dibawah naungan Majapahit. Arus yang datang dari luar selalu membawa perubahan sekaligus kepentingan yang termasuk di dalamnya adalah kepentingan niaga. Secara makna kalimat, Sirna Hilang Kertaning Bumi berarti sirna dan hilangnya kejayaan bumi. Ungkapan kalender tradisional ini, selain menjelaskan 1400 saka, juga memiliki keterangan sejarah. Ada keserasian antara makna waktu dengan histories kejatuhan Majapahit. Disinilah bedanya tradisi kalender Candra Sengkala dengan tradisi kalender lain. Memang setiap tradisi penanggalan berbeda dan masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Hanya Candra Sengkala, saya lihat cukup menarik dan tidak patut kita lupakan begitu saja. Meskipun jaman sekarang sudah tidak digunakan lagi, tetapi minimal ada sebuah kesadaran dalam diri masyarakat nusantara bahwa Candra Sengkala merupakan refleksi dari tingginya peradaban masyarakat Jawa ratusan tahun silam. Tidak ada alasan untuk meremehkan masyarakat tradisional. Para leluhur kita jugalah yang merintis tata cara hidup yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, semisal gotong royong. Terbukti benar, sejak tahun Sirna Hilang Kertaning Bumi (1400 saka), kejayaan bangsa kita mulai luntur. Bangsa asing mulai mendominasi dan menguasai segala aspek. Sumberdaya alam kita dikuras dengan sedemikian rupa hingga menjadikan bangsa nusantara menjadi terjajah. Saat ini pun bangsa kita belum menjadi bangsa yang jaya sebagaimana kejayaan Majapahit. Kejayaan benar-benar sirna di bumi nusantara. Untuk kembali merebut kejayaan yang sirna itu, kita perlu kerja keras dan berusaha semaksimal mungkin bangkit dari kemunduran ini. Kita berdayakan potensi yang ada, memanfaatkan peluang pembangunan yang mengarah pada kemajuan dan meningkatkan aspek penguat sumberdaya manusia. Saya memandang, Indonesia baru bangkit berjaya jikalau muncul kembali trah Majapahit Untuk memastikan hal ini memang tidak gampang. Maka dari itu, semangatnya yang kita ambil. Majapahit tidak hanya kuat dalam hal sarana prasarana. Selain armada perangnya tangguh, Majapahit juga memiliki sarana dagang dan system pemerintahan yang kuat menopang kelangsungan pembangunan. Kalau di kemudian hari bangsa kita telah menjadi kuat, maka senantiasa waspada terhadap terulangnya sirna hilang kertaning bumi. Sebaliknya, kita mesti pertahankan gemah ripah loh jinawi; tata tentrem kerta raharja ketika kerajaan Majapahit berdiri sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejak didirikan Raden Wijaya yang bergelar Sri Rajasa Jayawardhana, kerajaan ini senantiasa diliputi fenomena pemberontakan Pewaris tahta Raden Wijaya, yakni masa pemerintahan Kalagemet/Jayanegara (1309-1328), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan) dalam memerintah banyak menghadapi pemberontakan-pemberontakan terhadap Majapahit dari mereka yang masih setia kepada Kertarajasa. Bahkan salah satu penyebab kemunduran dan hancurnya kerajaan Majapahit adalah ketika meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan, daerah bawahan mulai melepaskan diri dan berkembangnya Islam di daerah pesisirKerajaan Majapahit yang pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan harus runtuh terpecah-pecah setelah kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468. Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit di tahun 1499 tanpa menyebutkan nama rajanya. Semakin meluasnya pengaruh kerajaan kecil Demak di pesisir utara Jawa yang menganut agama Islam, merupakan salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Tahun 1522 Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah kota. Pemerintahan di Pulau Jawa telah beralih ke Demak di bawah kekuasaan Adipati Unus, anak Raden Patah, pendiri kerajaan Demak yang masih keturunan Bhre Kertabhumi. Ia menghancurkan Majapahit karena ingin membalas sakit hati neneknya yang pernah dikalahkan raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Demikianlah maka pada tahun 1478 hancurlah Majapahit sebagai sebuah kerajaan penguasa nusantara dan berubah satusnya sebagai daerah taklukan raja Demak. Berakhir pula rangkaian penguasaan raja-raja Hindu di Jawa Timur yang dimulai oleh Keng Angrok saat mendirikan kerajaan Singha-sari, digantikan oleh sebuah bentuk kerajaan baru bercorak agama Islam. Ironisnya, pertikaian keluarga dan dendam yang berkelanjutan menyebabkan ambruknya kerajaan ini, bukan disebabkan oleh serbuan dari bangsa lain yang menduduki Pulau Jawa. Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana. Akan tetapi, masih ada juga kerajaan-kerajaan yang meneruskan corak kehinduan Majapahit misalnya, yaitu Pajajaran yang akhirnya lenyap setelah ditundukkan oleh Sultan Yusuf dari Banten di tahun 1579, juga Balambangan yang di tahun 1639 baru bisa ditundukkan oleh Sultan Agung dari Mataram, disamping masyarakat di pegunungan tengger yang sampai saat ini masih mempertahankan corak Hindunya dengan memuja Brahma, dan Bali yang masih tetap dapat mempertahankan kebudayaan lamanya.

Rabu, 20 April 2011

Nusantara yang Dilumpuhkan


Seandainya teori-teori termutakhir mengenai “Keunggulan Nusantara” benar atau terbukti masuk akal, misalnya Teori Stephen Oppenheimer bahwa “Nusantara adalah Surga” dan teori Arysio Santos bahwa “Nusantara adalah Atlantis yang Tenggelam”, maka perbincangan para “pengagum masa lalu Nusantara” yang membicarakan zaman keemasan “Zaman Pelayaran kuno bangsa Nusantara menjelajah Separuh Dunia”, zaman keemasan “Kurun Niaga”, zaman “Nusantara modern ala Nusantara” , dan sebagainya, sesungguhnya tak menarik lagi.

Namun, teori-teori Stephen Oppenheimer dan Arysio Santos–sampai detik ini—masih belum seratus persen dikukuhkan dengan bukti yang kuat, atau setidak-tidaknya belum disambut hangat—terutama di Nusantara, sehingga belum ada upaya dari pemerintah (…huh,pemerintah ?!? Hoeeek…) untuk membahas dua teori itu secara serius dan besar-besaran.

Nusantara Modern Maka, membahas pernak-pernik kejayaan Nusantara masa lalu mungkin masih menarik dan relevan. Tak ada yang menyangkal, bahwa Nusantara di masa lalu memang merupakan Negara adijaya. Hal ini diperkuat oleh salah satu kronik/catatan Cina yang berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya dan jaya selain Kerajaan Cina , secara berurutan adalah Negeri Arab, Jawa dan Sumatra, dimana yang dimaksudkan adalah Arab Bagdad ( Bani Abbasiyah ), Kerajaan Panjalu Kediri/Jawa zaman Airlangga akhir dan Kerajaan Sriwijaya Sumatra.

Salah satu tema Nusantara yang mungkin menarik untuk dibahas adalah konsep modernitas ala Nusantara.

Buku Anthony Reid yang sedang diterbitkan ulang, yakni “Asia Tenggara dalam Kurun Niaga” secara melimpah menyajikan data-data modernitas itu, meskoi Reid tidak membahas modernitas itu dengan menomorsatukan kesimpulan konsep “modern”.

Namun jelas, data-data Anthony Reid yang melimpah ruah, menggambarkan kemakmuran dan otonomitas masyarakat Nusantara masa lalu. Menurut Reid, kekayaan alam yang luar biasa membuat masyarakat Nusantara masa lalu, membuat tampilan masyarakat Nusantara menjadi lebih menarik daripada orang Barat atau Eropa.

Tinggi rata-rata manusia Nusantara zaman niaga, konon lebih tinggi dan lebih tegap daripada orang-orang Eropa yang mulai menyerbu Nusantara di abad 16 M.

Dan karena masyarakat Nusantara mempunyai kebiasaan mandi minimal 3 kali sehari, mereka tampak lebih bersih daripada orang Eropa yang jarang mandi dan bau minuman keras.

Bahkan, beberapa penulis Eropa menyebutkan bahwa masyarakat Nusantara masa lalu adalah bangsa pesolek. Dan memang, jika melihat gambar-gambar yang melimpah di buku Anthony Reid tersebut, masyarakat Nusantara—yang karena waktu luangnya amat banyak lantaran alamnya telah memberinya aneka bahan makanan yang gampang diambil tanpa susah payah—maka lebih punya banyak waktu untuk bersolek atau berkarya seni budaya : membuat karya lukis, patung, tari-tarian, musik dan “seni dolanan”.

Tidak hanya kaum wanitanya, bahkan kaum lelaki Nusantara masa lalu juga pesolek luar biasa. Mereka mentato tubuhnya, memakai perhiasan di pergelangan kaki, tangan, bahu, kalung, anting-anting, perhiasan hidung dan sebagainya.

Bahkan seni potong rambutpun beraneka gaya, bandingkan dengan orang-orang Eropa yang Cuma memanjangkan rambutnya atau hanya diikat.

Seni potong rambut di Nusantara beraneka gaya, yang tentunya kalau diukur di masa itu atau bahkan sampai zaman 1990-an, dianggap biadab atau primitif, kecuali zaman sekarang ( 2000-an ) yang menghalalkan potongan rambut macam-macam seperti yang dipelopori anak-anak Punk—itupun karena mereka ( anak-anak Punk itu meniru Barat ) padahal di masa lalu, potongan rambut itu milik manusia Nusantara asli.

Modernitas Ala Nusantara Konsep modern dan modernitas ala Nusantara diperkenalkan oleh Adrian Vickers, misalnya dalam bukunya “Peradaban Pesisir”.

Menurut Vickers, Nusantara zaman niaga itu, sesungguhnya masyarakat berkebudayaan modern yang mempunyai banyak unsur-unsur modernitas.

Terlepas dari peperangan yang dilancarkan oleh satu kerajaan terhadap kerajaan Nusantara yang lain, masyarakat Nusantara diikat oleh satu kesatuan primordialisme budaya yang disebarkan atau dirangkai-jahitkan oleh para pelayar Nusantara yang terdiri dari kaum pedagang, penyebar agama, pendekar bangsawan pengembara—atau yang oleh kaum Eropa disebut sebagai “bajak laut” sehingga kini masuk kosakata bahasa Inggris sebagai “The Bogey” atau “Bogeyman” yang berarti “hantu laut atau bajak laut” yang mengacu kepada suku-bangsa “Bugis”.

Peran para pedagang-pelayar-penyebar agama-bangsawan pendekar pengembara itu, membuat Nusantara yang terpisah satu dari lainnya karena laut yang membentang, menjadi tak ada jarak, karena “nilai-nilai modernitas” itu dihubungkan atau dijembatani oleh kaum pelayar-pengembara itu. Adrian Vickers melihat, simbol-simbol perahu di kain tenun tapis Lampung dengan lukisan “tradisional” Bali sama dan senada, ialah karena “kesatuan budaya” yang dijembatani oleh kaum “pendekar-pelayar-pengembara” itu.

Juga patung Dayak senada dengan patung Rangda Bali. Contoh ini tentu akan sangat panjang. Adrian Vickers mengambil contoh paling gampang pada “Sastra Panji” yang terdapat dimana- mana di kepulauan Nusantara, mulai Jawa, Bali, Sumatra, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar dan sebagainya,adalah contoh nyata kesatuan budaya modernitas yang disebarkan oleh kaum pendekar-pelayar-pengembara.

Catatan : Apabila pembaca ingin mengenal lebih dekat secara kasuistis kisah kaum pendekar-pelayar-pengembara itu, baiklah segera membaca novel “Pendekar Sendang Drajat Memburu Kitab Negarakertagama” yang kini sedang beredar di pasaran. Di situ dikisahkan, bagaimana kelompok pendekar yang melarikan diri dari kerusuhan peperangan di kerajaannya, mereka berkelana ke pulau/kerajaan/peradaban lain untuk mencari “kehidupan baru” yang sesuai dengan “minda kultural”nya.

Nusantara yang dihancurkan Semua modernitas itu dianggap “kampungan” atau “primitif” atau “tradisional” oleh bangsa Eropa ketika mereka menyerbu Nusantara pada abad 16 M , bahkan di Semenanjung telah mulai dirongrong pada abad 15 M.

Belanda menerapkan “Perjanjian Bongaya” di Makassar yang isinya melarang para pelayar-pengembara berlayar ke seluruh penjuru Nusantara,apalagi keliling dunia seperti dulu. Mereka hanya boleh berlayar di sungai-sungai pedalaman, atau ke pelabuhan-pelabuhan terdekat, itupun harus mengantongi surat izin syahbandar yang ditunjuk Belanda, biasanya adalah orang-orang Cina. Sejak itu, kejayaan pelayaran Nusantara meredup dan mampus sampai sekarang.

Apalagi kemudian orang-orang Eropa itu tidak hanya berdagang, namun juga menjajah dan merampok kekayaan Nusantara, hingga kini kerajaan-kerajaan Eropa itu menjadi negara kaya-raya karena menghisap habis kekayaan Nusantara ( sampai sekarang tetap menghisap kekayaan Nusantara lewat kerjasama dengan maling-maling lokal alias pejabat pengkhianat ).

Sejak itu pula, konsep “modern” yang ada di Nusantara dinilai kuno, mereka memaksakan kebudayaan “indis” atau yang lebih merusak adalah “westernisasi”. Semua gaya hidup dianggap maju dan modern jika sesuai dengan gaya hidup Barat.

Maka, rumah-rumah tradisi yang dibangun dari kayu dan bambu, dengan arsitektur tahan gempa dan tidak gampang panas dan gerah karena mempunyai ventilasi alami, kini dianggap kuno dan “berkonotasi miskin” . Digantikan dengan rumah-rumah tembok yang tidak ramah alam dan panas dan menggerahkan.

Untuk menyejukkan, kini harus membeli produk Barat, yakni AC ( air conditioner ) yang dampaknya adalah pemanasan global yang menghancurkan iklim dunia.

Dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya…/.capppeeek deeeeh !!!!!

(by :Viddy AD Daery * budayawan, penyair, novelis, kolumnis, penulis skenario teater )

Minggu, 20 Februari 2011

LAPORAN TENTANG DEWAN JENDRAL PADA SOEHARTO

Di sini perlu saya ungkapkan di muka Sidang Mahkamah Militer Tinggi ini agar persoalannya lebih jelas, Dua hari sebelum peristiwa tanggal 1 Oktober 1965, saya beserta keluarga mendatangi ke rumah keluarga Bapak Jendral Soeharto di rumah Jalan Haji Agus Salim yang waktu itu beliau masih menjabat sebagai Panglima KOSTRAD di samping acara kekeluargaan saya juga bermaksud:

"MENANYAKAN DENGAN ADANYA INFO DEWAN JENDRAL SEKALIGUS MELAPORKAN KEPADA BELIAU".

Oleh beliau sendiri justru memberi tahukan kepada saya: "BAHWA SEHARI SEBELUM SAYA DATANG KE RUMAH BELIAU,ADA SEORANG BEKAS ANAK BUAHNYA BERASAL DARI YOGYA- KARTA BERNAMA SUBAGYO, MEMBERI TAHUKAN TENTANG ADANYA INFO DEWAN JENDRAL AD YANG AKAN MENGADA- KAN COUP D'ETAT "TERHADAP KEKUASAAN PEMERINTAHAN PRESIDEN SUKARNO".

Tanggapan beliau akan diadakan penyelidikan. Oleh karena di tempat/ruangan tersebut banyak sekali tamu, maka pembicaraan dialihkan dalam soal-soal lain antara lain soal-soal rumah. Saya datang ke rumah Bapak Jendral Soeharto bersama isteri saya dan tamu isteri saya berasal dari Sala Ibu Kolonel Suyoto dan dalam perjamuan di ruangan beliau ada terdapat ibu Tien Soeharto, Orang tua suami isteri Ibu Tien, Tamu Ibu Tien Soeharto berasal dari Sala bernama Bapak Dul dan Ibu Dul juga termasuk putera bungsu laki-laki Bapak Jendral Soeharto yang kemudian harinya ketumpahan sup panas.

Selain dari pada itu sesuai dengan laporan dari seorang penulis bernama Brackman menulis tentang wawancara dengan Jendral Soeharto sesudah peristiwa 1 Oktober 1965 kira-kira pada tahun 1968. Diterangkan bahwa dua hari sebelum 1 Oktober 1965 demikian kata Jendral Soeharto: Anak laki-laki kami yang berusia 3 tahun mendapat kecelakaan di rumah, ia ketumpahan sup panas dan cepat-cepat dibawa ke rumah sakit.

Banyak kawan-kawan datang menjenguk anak saya di malam tanggal 30 september 1965 saya juga berada di situ. Lucu juga kalau diingat kembali. Saya ingat Kolonel Latief datang ke rumah sakit malam itu untuk menanyakan kesehatan anak saya. Saya terharu atas keprihatinannya. Ternyata kemudian Latief adalah orang penting dalam Coup yang kemudian terjadi. Kini menjadi jelas bagi saya bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukanlah untuk menengok anak saya, melainkan sebenarnya untuk mengecek saya. Rupanya ia hendak membuktikan kebenaran berita sekitar sakitnya anak saya dan memastikan bahwa saya akan terlampau prihatin dengan keadaan anak-anak saya. Saya diam di rumah sakit sampai menjelang tengah malam dan kemudian pulang ke rumah.

Ada lagi sebuah wawancara dari surat kabar Der Spiegel Jerman Barat pada bulanJuni 1970 yang menanyakan bagaimana Soeharto tidak termasuk daftarJendral-jendral yang harus dibunuh, Soeharto menjawab: "Kira-kira jam 11 malam itu Kolonel Latief dari komplotan putsch datang ke rumah sakit untuk membunuh saya, tapi nampaknya ia tidak melaksanakan berhubung kekhawatirannya melakukan di tempat umum.

Dari dua versi keterangan tersebut di atas yang saling bertentangan satu sama lain, yaitu yang satu hanya mencek dan yang satu untuk membunuh, saya kira Hakim Ketua sudah bisa menilai dari kedua keterangan tersebut dan akan timbul pertanyaan tentunya:"mengapa Latief datang pada saat yang sepenting itu? Mungkinkah Latief akan membunuh Jendral Soeharto pada malam itu?"

Mungkinkah saya akan berniat jahat kepada orang yang saya hormati saya kenal semenjak dahulu yang pernah menjadi Komandan saya? Logisnya seandainya benar saya berniat untuk membunuh Bapak Jendral Soeharto,pasti perbuatan saya itu adalah merupakan suatu blunder yang akan menggagalkan gerakan tanggal 1 Oktober 1965 itu.

Dari dua versi keterangan tersebut di atas menunjukkan bahwa BapakJendral Soeharto berdalih untuk menghindari tanggungjawabnya dan kebingungan. Yang sebenarnya bahwa saya pada malam itu di samping memang menengok putranda yang sedang terkena musibah sekaligus untuk melaporkan akan adanya gerakan pada besok pagi harinya untuk menggagalkan rencana Coup D'etat dari Dewan Jendral di mana beliau sudah tahu sebelumnya.

Memang saya berpendapat, bahwa satu-satunya adalah beliaulah yang saya anggap loyal terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno dan saya kenal semenjak dari Yogyakarta siapa sebenarnya Bapak Jendral Soeharto itu. Saya datang adalah atas persetujuan Brigjen Soeparjo sendiri bersama-sama Letkol Untung sewaktu menemui saya pada malam tanggal 1 Oktober 1965 kira-kira jam 21.00 atau lebih di rumah saya dengan tujuan sewaktu-waktu akan minta bantuan dari beliau. Karena itulah saya berkepentingan untuk datang kepada beliau. Letkol Untung pun adalah anak buah beliau semenjak di Jawa Tengah dan yang terpilih sebagai Pasukan penggempur (Raiders) yang kemudian terpilih diterjunkan di Irian Barat sehingga untuk mendapatkan bintang yang tertinggi. Hanya saja Untung tidak seberani seperti saya untuk menghadap atau menemui Bapak Jendral Soeharto, sedianya waktu itu ketiga orang tersebut saya ajak serta, tetapi kemudian beliau-beliau menyerahkan kepercayaannya kepada saya dan dikarenakan ada tugas lain.

Saya sebagai anak buah sekalipun sudah terlepas dalam ikatan komando dengan Bapak Jendral Soeharto di manapun beliau berada selalu saya temui. Dengan sendirinya timbul keakraban secara kekeluargaan di luar dinas. Saya mempercayai kepemimpinan beliau seandainya berhasil dapat menggagalkan usaha Coup Dewan Jendral beliaulah yang terpilih sebagai tapuk pimpinan sebagai pembantu setia Presiden Sukarno.Akan tetapi situasi cepat berubah yang tidak bisa saya jangkau pada waktu itu. Beliau yang kami harapkan akan menjadi pembantu setia Presiden/Mandataris MPRS/Panglima Tertinggi Bung Karno menjadi berubah memusuhinya.

Mengapa saya dan teman-teman saya terutama yang berasal dari Jawa Tengah mempercayai Jendral Soeharto, sbb:

"Memang saya pribadi adalah bekas anak buah beliau sewaktu menjabat sebagai Dan Kie 100 yang langsung organisatoris dan taktis pada Brigade X pada waktu jaman gerilya. Letkol.Untung pun juga pernah menjadi anak buah langsung sewaktu di daerah Korem Sala yang kemudian Let.Kol.Untung terpilih sebagai salah seorang pimpinan Gerilyawan yang diterjunkan di Kaimana sewaktu Trikora. Pernah saya dengar dari pembicaraan Let.Kol. Untung sendiri sewaktu selesai tugas Trikora ia dipindahkan ke Resimen Cakrabirawa, ia katakan dengan peristiwa itu Jendral Soeharto pernah marah-marah atas kepindahannya ke Men Cakra itu, karena ia akan ditarik sebagai pasukan Kostrad di bawah pimpinan beliau. Selain itu sewaktu Let.Kol. Untung menjadi temanten di Kebumen Jendral Soeharto juga memerlukan datang untok turut merayakan pesta perkawinan.

"Dengan saya pun demikian, secara dinas menurut perasaan saya bahwa saya selalu mendapat kepercayaan. Sewaktu masa Gerilya di Yogyakarta sering saya mendapatkan perintah-perintah penting untuk menggempur kedudukan musuh tentara Belanda dengan menggabungkan pasukan lain (Brimob) di bawah pimpinan saya. Kemudian pada penyerangan total kota Yogyakarta yang terkenal enam jam di Yogyakarta, pasukan saya mendapat kepercayaan untuk menduduki daerah sepanjang Malioboro mulai dari Setasiun Tugu sampai Pasar Besar Yogyakarta dan beliau sendiri mengikuti pasukan saya yang terletak di daerah Kuncen atau desa Sudagaran yang hanya terletak 500 m dari batas kota Yogyakarta itu (daerah Demakijo). Hal tersebut setelah saya dapat lolos dari kepungan tentara Belanda yang sedang mengadakan counter offensif dan saya dapat mundur kembali keluar kota dengan meninggalkan korban 12 luka-luka, 2 gugur dan 50 orang pemuda-pemuda gerilya kota di bawah pimpinan saya mati terbunuh oleh pembersihan tentara belanda, pemuda-pemuda tersebut yang sekarang dimakamkan atau dengan nama MAKAM TAK BERNAMA di daerah BALOKAN di depan Setasian Tugu Yogyakarta. Kira-kira pada jam 12.00 siang hari bertamulah saya pada Komandan Wehrkraise Let.Kol.Soeharto di Markas rumah yang saya tempati sebagai Markas Gerilya, yang sewaktu itu beliau sedang menikmati makan soto babat bersama-sama pengawal dan ajudannya. Kami segera melaporkan atas tugas kewajiban saya.

Kemudian beliau masih memerintahkan lagi supaya menggempur pasukan Belanda yang sedang berada di kuburan Kumoan Yogyakarta yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari Markas gerilya saya itu, akhirnya beliau segera kembali ke Markas Besarnya. Hanya saja sayang dalam sejarah yang sering ditulis dalam peringatan penyerbuan ibu kota Yogyakarta pada 1 Maret hanya ditulis "Bahwa Jendral Soeharto dalam memimpin serangan pada tgl. 1 Maret di Yogyakarta mengikuti salah satu pasukan."Di sinilah pentingnya saya ungkapkan demi untuk melengkapi sejarah dengan ceritera yang sebenarnya. Bagi saya tidak ada ambisi untuk menonjol-nonjolkan agar ditulis dalam sejarah, sekalipun saya sendiri semenjak revolusi Agustus 1945 ikut secara phisik melucuti Jepang menggempur tentara Sekutu dan Belanda sebagai seorang pejuang kemerdekaan. Di Jawa Timur Surabaya. Bagi saya tidak ada artinya karena bukanlah orang penting dan orang besar. Yang penting bagi ahli-ahli sejarah harus teliti menyelidiki dalam tulisan-tulisan sejarah yang tepat.

Sesudah Clash ke II saya merasa selalu mendapat kepercayaan dari Jendral Soeharto yang waktu itu sebagai komandan saya untuk memimpin pasukan-pasukan pada saat yang sulit. Sampai pada saat TRIKORA pun sekalipun saya secara organisatoris terlepas dari komandonya masih dicari untuk memimpin pasukan penerjun (para) Task force II ke Irian Barat dan yang dintus waktu itu adalah staf beliau let.Kol.Mardanus sekarang anggauta MPR/DPR. Mengingat pada waktu itu saya sendiri mendapat perintah harus menempah Sekolah Staf Komando (SESKOAD II), maka perintah untuk tugas Irian Barat dibatalkan. Kemudian pada tahun 1965 kira-kira bulan Juni tepat pada hari ulang tahun CPM (Corp Polisi Militer) Jenderal Soeharto telah menemui Pangdam V Jaya Jendral Umar Wirahadikusumah dengan maksud meminta diri saya untuk ditugaskan sebagai Komandan Task Force di Kalimantan Timur.

Singkatnya oleh Jendral Umar permintaan tersebut ditolak dengan alasan karena tenaga saya dibutuLkan untuk tugas keamanan di Ibu Kota RI Kodam V Jaya. Keterangan ini saya dapat dari Pangdam Jendral sendiri diberitahukan tentang hal itu. Jendral Umar menyatakan:"Bahwa tugas untuk menjaga keamanan di Ibu Kota RI tidak kalah pentingnya dengan tugas di garis depan, sebab disini terletak pemimpin-pemimpin negara terutama Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno jadi secara strategis adalah penting sekali, sedangkan bila di garis depan hanya mempunyai arti "taktis". Atas dasar penjelasan itulah sayapun sadar dan bersemangat karena panglima saya benar-benar setia kepada Pemimpin Besar revolusi sependirian dengan saya. Sekalipun saya sendiri waktu itu mengusulkan agar diijinkan berangkat bertugas dengan maksud untuk mencari pengalaman dalam perang modern, mentrapkan theori yang saya hasilkan dari sesudah sekolah SESKOAD II. Selanjutnya kira-kira pada permulaan bulanAgustus saya pun pernah menghadap Jendral Soeharto ke rumah datang atas dasar kekeluargaan biasa, antara lain juga memberitahukan seperti yang saya terangkan tersebut di atas dan kemungkinan akan diajukan ke atasan agar saya bisa bertugas.

Mengenai kekeluargaan di luar dinas pun saya mempunyai keakraban semenjak diJawaTengah, sekalipun beliau sudah terlepas dari komando saya tetap sering saya datangi. Kebiasaan Perwira- perwira bawahan yang sejajar dengan saya (komandan-komandan Batalyon) jarang datang ketempat beliau, terkecuali saya, kata teman- teman saya itu banyak yang merasa segan karena Jendral Soeharto dianggap terlalu seram. Penilaian saya tidak.

Sebagai bukti lagi sewaktu beliau mengkhitankan puteranya bernama Sigit keluarga saya pun datang adapun Ibunya tak dapat datang karena Ibu saya sedang sakit keras di Surabaya. Sebaliknya pada waktu saya mengkhitankan anak saya beliau dengan Ibu Tien juga datang ke rumah saya.Jadi kesimpulan saya denganJendral Soeharto sekeluarga tidak mempunyai persoalan apapun malahan mempunyai hubungan secara akrab.

Misalnya: saya pernah mengusahakan agar beliau bisa membangun rumah yang agak besar sedikit, karena yang saya lihat rumah beliau terlampau kecil. Karena itu saya pernah mengusahakan tanah lewat bagian kaveling DKI dan kemudian mendapatkan di daerah Rawamangun. Di samping itu sewaktu saya pernah mendapat rumah di jalan Jambu bekas Kedutaan Inggeris yang kebetulan rumah itu besar, saya berkeinginan untuk mem- berikan rumah itu untuk ditempati oleh Jendral Soeharto sekeluarga dan saya menempati rumah beliau yang kecil. Dalam soal inilah antara lain yang pernah saya bicarakan di rumah beliau dua hari sebelum peristiwa.

Rabu, 12 Januari 2011

ZIONISME


Dalam pembicaraan Presiden RI I yakni SUKARNO dengan Cindy Adams dan menjadi sebuah buku yang berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, Sang Pemimpin Revolusi itu mengatakan, “Aku teringat akan suatu hari, ketika aku menghadapi dua buah laporan yang bertentangan tentang diriku. Kadang‐kadang seorang Kepala Pemerintahan tidak tahu, mana yang harus dipercayainya. Yang pertama berasal dari majalah "Look". "Look" menyatakan, bahwa rakyat semua menentangku. Majalah ini memuat sebuah tulisan mengenai seorang tukang becak yang mengatakan seakan‐akan segala sesuatu di Indonesia sangat menyedihkan keadaannya dan orang‐orang kampung pun sekarang sudah muak terhadap Sukarno.”….
Membaca buku itu, saya kembali sangat yakin bahwa perjuangan SUKARNO untuk melakukan REVOLUSI sangatlah berat. Selain menghadapi kaum penjajah dan para KAPITALIS, ia juga harus berhadapan dengan bentuk “TEROR” yang mencoba membangun “OPINI” dan “MERACUNI” pikiran rakyat Indonesia terhadap sosok “SUKARNO”.
Memang tak ku temui seperti apa Majalah “LOOK” yang dibaca oleh SUKARNO. Tapi aku bisa sedikit ku mengerti melalui buku yang berjudul “BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT”.
Setelah itu, aku kembali mengingat sebuah bahan bacaan yang menceritakan awal terbentuknya ISRAEL yang disebut-sebut banyak melakukan kekejaman atas PALESTINA.
Dari sumber-sumber yang ku baca, muncul sebuah kata yakni “ZIONISME”. Dimana, Zionisme merupaka sebuah faham yang ditelurkan oleh “THEODOR HARZL” seorang lelaki kelahiran di Budapest tahun 1860.
Kata Zionisme berawal dari sebuah nama bukit di kawasan Yerrusalem yakni Bukit Zion. Disebutkan, Bukit Zion merupakan asal berkembangnya sebuah ajaran yang di anut orang Yahudi.
Lewat faham Zionisme, Harzl mengajak orang-orang Yahudi yang berada di seluruh pelosok dunia, untuk kembali dan mendirikan sebuah negara dan kini bernama ISRAEL yang lahir tepatnya tanggal 14 Mei 1948.
Sebelum terbentuknya Israel menjadi sebuah negara, Harzl yang juga menjadi seorang “JURNALIS” sebuah harian di WINA bernama “LIBERAL WINA NEUE FREIE”, menciptakan sebuah buku yang berjudul “Der Judestaat” atau “Negara Yahudi” terbit di tahun 1896.
Buku tersebut dibuat oleh Harzl setelah peristiwa “Dreyfus” tahun 1894 dan membuat kaum Yahudi menjadi terpuruk dan di musuhi oleh EROPA.
Dari sumber-sumber yang ku baca, rasa permusuhan tersebut muncul karena kekejamannya sehingga keberadaannya orang Yahudi tidak diterima oleh sejumlah negara ketika itu. Wajar, karena ketakutan tersebut berawal dari sebuah ajaran yang membentuk hegemoni bahwa orang Yahudi adalah paling mulia.
Buntutnya, kaum Yahudi dibawah kendali Harzl akhirnya menggelar Konfrensi pertama kaum Zionis tahun 1987 di Basel, Swiss.
Dalam konfrensi tersebut mencuat sebuah strategi para Zionis yang dibenci karena ajarannya, yang kemudian digunakan sebagai senjata hingga terbentuknya ISRAEL. Harzl mengatakan, bahwa strategi untuk memenangkan visi misi Zionis adalah “DENGAN MENGUASAI MEDIA”.
Hal tersebut kembali dikuatkan oleh seorang Rashoron (1986) yang mengatakan, bahwa Media adalah SENJATA kedua untuk meraih kemenangan setelah senjata pertama yakni Emas.
Dalam perjalanannya, Harzl kemudian bertemu dengan Sultan Abdul Ahmid II di ISTAMBUL. HARZL memberi “SUAP” kepada Sultan dengan uang 35 Juta Lira emas, membuat benteng pertahanan bagi Khalifat Turki Utsmania dan Pelunasan Hutang Luar Negeri.
Penyuapan itu bertujuan agar kaum Yahudi di ISTAMBUL bisa menetap lama di kawasan tersebut. Karena sebelumnya, Sultan hanya memberikan mereka batas waktu tiga bulan untuk menetap di Istambul. Suap tersebut juga bertujuan untuk bisa menguasai PALESTINA.
Namun, Sultan dengan tegas melakukan penolakan lewat sebuah memorandum yang bunyinya
“Saya tak kan melepaskan palestina walau sejengkal, sebab tanah itu bukan milik saya tapi milik umat saya yang mereka dapatkan dengan tetasan darah……,”Sebuah penolakan tegas yang juga dilakukan SUKARNO ketika memerangi para KAPITALIS.
Sebelumnya, saya membaca banyak kaum YAHUDI yang juga menjadi musuh BENJAMIN FRANKLIN, menguasai sejumlah media di dunia.
Seperti Julius Reuter, kelahiran 1816, yang merupakan seorang Yahudi dan menjadi pendiri Kantor Berita Reuter. Kantor Berita itu kemudian menjadi sebuah kantor berita Nasional milik INGGRIS serta menjadi kantor berita terbesar di dunia.
Setelah itu, muncul kantor berita di Havas yang juga dibangun oleh seorang Yahudi, ditahun 1835 menjadi kantor berita resmi milik Negara Perancis.
Bahkan, Majalah terbesar di Inggris yakni “The Times” yang berdiri tahun 1788, juga dimotori oleh seorang Yahudi Inggris yakni Rochild. Bukan hanya itu, setengah lebih dari 1700 distributor media massa Amerika Serikat sudah di kuasai orang Yahudi.
MEDIA-MEDIA TERSEBUT LAH YANG DIKATAKAN BANYAK MENUTUPI KEKAJAMAN YANG DI LAKUKAN ISRAEL TERHADAP PALESTINA. APAKAH ORANG-ORANG YAHUDI ITU JUGA TERMASUK SEBAGAI PEMILIK MEDIA YANG MEMUTAR BALIKAN FAKTA SERTA INGIN MEMBENTUK OPINI BURUK MASYARAKAT TERHADAP SUKARNO???
WAH.....KOK GITU??
Tapi apakah itu juga berlangsung saat ini di INDONESIA dan di BALI pada khususnya?
Apakah itu juga terjadi setelah ada KODE ETIK JURNALISTIK dan UU No 40 Tahun 1999 dan yang terbaru yakni UU No.14 Tahun 2008???
Mungkin sedikit ku ingatkan salah satu pasal yang ada dalam UU No.40 tahun 1999 tepatnya PASAL 6 yakni Pers Nasional melaksanakan peranannya sebagai berikut ; huruf “e” ; MEMPERJUANGKAN KEADILAN DAN KEBENARAN.
Sekedar tambahan lagi, bahwa Yahudi kemudian menjadi sekutu kuat Amerika Serikat dan ada Dua organisasi Zionis Yahudi di AS masing-masing JINSA (Jews Institute for National Security Affairs) dan CSP (Centre for Securty). Organisasi tersebut memiliki pengaruh terhadap kebijakan Luar Negeri AS